Panduan Lengkap tentang Jenis Vaksin, Manfaat, dan Jadwal Vaksinasi

oleh -34 Dilihat
Panduan Lengkap tentang Jenis Vaksin, Manfaat, dan Jadwal Vaksinasi
Jenis Vaksin dan Manfaatnya

Jenis Vaksin dan Manfaatnya – Vaksin adalah produk biologi yang berisi antigen yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu. Antigen tersebut biasanya berupa mikroorganisme yang sudah dilemahkan atau dimatikan, bagian tubuh mikroorganisme ataupun toksinnya.

Vaksin pertama kali ditemukan oleh Edward Jenner pada tahun 1796 untuk melawan penyakit cacar. Vaksin ini dibuat dari virus cacar sapi (cowpox) yang ditularkan pada manusia sehingga menimbulkan kekebalan terhadap virus cacar. Sejak saat itu, vaksin terus dikembangkan untuk mencegah berbagai penyakit infeksi.

Tujuan pemberian vaksin adalah untuk melindungi individu dan populasi dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Vaksin bekerja dengan melatih dan mempersiapkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan suatu penyakit tertentu sebelum terpapar dengan penyakit tersebut. Dengan cakupan vaksinasi yang tinggi di masyarakat, penyebaran dan kejadian penyakit dapat dicegah.

Jenis-Jenis Vaksin

  • Vaksin Wajib

Vaksin wajib adalah vaksin yang diberikan kepada bayi dan anak-anak dalam program imunisasi nasional secara rutin. Termasuk dalam vaksin wajib antara lain vaksin Hepatitis B, BCG, DPT, Polio, Campak dan Campak Jerman. Vaksin wajib ini bertujuan untuk melindungi anak dari penyakit infeksi yang berbahaya sejak dini.

  • Vaksin Tambahan

Selain vaksin wajib, ada juga vaksin tambahan yang dianjurkan untuk melindungi dari penyakit lainnya. Contoh vaksin tambahan antara lain vaksin influenza, typhoid, hepatitis A, rotavirus, dan pneumokokus. Vaksin tambahan ini diberikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan untuk mencegah penyakit tertentu.

  • Vaksin Campak

Vaksin campak adalah salah satu jenis vaksin wajib yang diberikan melalui suntikan. Vaksin ini membantu sistem kekebalan tubuh melawan virus campak sehingga terhindar dari penyakit campak. Efektivitas vaksin campak sangat tinggi, sekitar 95% setelah mendapat satu dosis.

  • Vaksin Polio

Vaksin polio termasuk ke dalam vaksin wajib yang diberikan melalui tetes atau suntikan. Vaksin ini melindungi dari virus polio yang menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan. Vaksin polio diberikan kepada bayi secara bertahap beberapa kali agar terbentuk kekebalan tubuh yang optimal.

  • Vaksin Influenza

Vaksin influenza atau flu merupakan vaksin tambahan yang direkomendasikan setiap tahun untuk mencegah penyakit influenza. Vaksin ini mengandung virus influenza yang telah dilemahkan. Vaksin influenza perlu diulang setiap tahun karena virus influenza selalu bermutasi.

Cara Kerja Vaksin

Vaksin bekerja dengan melatih sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan antigen atau bagian-bagian dari suatu penyakit.

Antigen adalah zat asing yang jika masuk ke dalam tubuh dapat memicu respon kekebalan. Antigen ini bisa berupa protein, polisakarida, atau zat lain yang berasal dari mikroorganisme penyebab penyakit.

Vaksin umumnya berisi antigen yang dilemahkan atau dimatikan sehingga tidak membahayakan tubuh. Setelah menerima vaksin, sistem kekebalan tubuh akan merespons dengan membentuk antibodi yang spesifik melawan antigen pada vaksin tersebut.

Sel kekebalan tubuh juga akan membentuk memori imun sehingga jika di kemudian hari tubuh terpapar dengan antigen yang sama, sistem kekebalan dapat segera mengenali dan memberikan respons yang lebih cepat dan kuat untuk melawan infeksi.

Dengan demikian, vaksinasi dapat memberikan imunitas terhadap suatu penyakit tanpa harus mengalami infeksi penyakit yang sesungguhnya. Semakin banyak yang divaksinasi, semakin banyak yang dilindungi dan risiko penyebaran penyakit pun berkurang.

Manfaat Vaksin

Vaksin memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, diantaranya:

  • Mencegah Penyakit

Vaksin dapat mencegah seseorang terkena penyakit menular tertentu. Vaksin bekerja dengan melatih sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan virus atau bakteri penyebab penyakit. Dengan vaksinasi, seseorang akan terlindungi dari penyakit berbahaya seperti difteri, tetanus, polio, campak dan lainnya.

  • Mengurangi Komplikasi Penyakit

Selain mencegah, vaksinasi juga dapat mengurangi risiko komplikasi berbahaya akibat penyakit menular. Misalnya, vaksin influenza dapat mencegah komplikasi parah seperti pneumonia pada penderita influenza.

  • Melindungi Masyarakat

Ketika sebagian besar masyarakat divaksinasi, maka penularan penyakit akan berkurang drastis karena masyarakat menjadi kebal terhadap penyakit tersebut. Hal ini memberi perlindungan bagi mereka yang tidak bisa menerima vaksin karena alasan kesehatan. Dengan kata lain, vaksinasi menimbulkan kekebalan kelompok (herd immunity).

Jadwal Vaksinasi

Jadwal vaksinasi sangat penting untuk diperhatikan agar mendapatkan perlindungan maksimal dari penyakit. Berikut jadwal vaksinasi yang dianjurkan:

Jadwal Vaksinasi Bayi

  • Hepatitis B – Dosis 1 : 0-7 hari setelah lahir
  • BCG dan Polio 1 – Dosis 1 : 1 bulan
  • DPT-HB-Hib 1 – Dosis 1 : 2 bulan
  • Polio 2 – Dosis 2 : 2 bulan
  • DPT-HB-Hib 2 – Dosis 2 : 3 bulan
  • Polio 3 – Dosis 3 : 3 bulan
  • DPT-HB-Hib 3 – Dosis 3 : 4 bulan
  • Polio 4 – Dosis 4 : 4 bulan
  • Campak – Dosis 1 : 9 bulan
  • Campak – Dosis 2 : 15 bulan

Jadwal Vaksinasi Anak-Anak

  • DPT-HB – Dosis 1 : 18 bulan
  • Polio – Dosis 1 : 18 bulan
  • Campak – Dosis ke-1 : 9 bulan
  • Campak – Dosis ke-2 : 15 bulan
  • Varicella : 18 bulan

Jadwal Vaksinasi Dewasa

  • Influenza : 1 kali dalam setahun
  • Hepatitis A : 2 kali dalam jarak 6-12 bulan
  • Hepatitis B : 3 kali dalam jarak 0, 1, 6 bulan
  • MMR (Measles, Mumps, Rubella) : 1-2 kali jika belum pernah divaksinasi
  • Varicella : 2 kali dengan interval 4-8 minggu jika belum pernah

Pastikan mengikuti jadwal vaksinasi yang benar sesuai dengan usia untuk mendapatkan perlindungan maksimal terhadap penyakit. Konsultasikan jadwal vaksinasi dengan dokter.

Efek Samping sesudah Vaksin

Seperti obat-obatan lainnya, vaksin juga memiliki potensi efek samping. Namun, kebanyakan efek samping vaksin bersifat ringan dan sementara. Beberapa efek samping umum dari vaksin meliputi:

  • Nyeri dan Bengkak di Area Suntikan

Rasa nyeri, kemerahan, dan bengkak biasanya timbul di area suntikan. Ini adalah respon tubuh yang normal terhadap suntikan. Gejala ini biasanya muncul dalam 24-48 jam setelah suntikan dan akan menghilang dalam beberapa hari.

  • Demam Ringan

Demam merupakan tanda bahwa sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap vaksin. Demam ringan hingga sedang adalah efek samping yang umum. Demam biasanya muncul dalam 2 hari setelah vaksinasi dan akan menghilang dalam 1-2 hari.

  • Alergi

Seperti obat-obatan lainnya, vaksin juga berpotensi menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang. Gejala alergi meliputi gatal-gatal, ruam kulit, pembengkakan di wajah dan tenggorokan, atau kesulitan bernapas. Reaksi alergi ini sangat langka dan umumnya terjadi segera setelah suntikan.

Meskipun efek samping tersebut umum terjadi, prevalensinya sangat rendah. Selain itu, efek samping vaksin jauh lebih ringan dibandingkan dampak buruk yang ditimbulkan penyakit itu sendiri. Oleh karena itu, manfaat vaksinasi jauh lebih besar dibandingkan risiko efek sampingnya.

Kontraindikasi vaksin

Meskipun vaksin memiliki banyak manfaat, ada beberapa kondisi yang dapat menjadi kontraindikasi atau larangan untuk menerima vaksinasi. Beberapa kondisi yang menjadi kontraindikasi vaksin antara lain:

  • Alergi Telur

Beberapa jenis vaksin dibuat menggunakan virus yang ditumbuhkan dalam telur ayam. Oleh karena itu, orang yang memiliki alergi telur berpotensi mengalami reaksi alergi jika mendapat vaksin tersebut. Contoh vaksin yang dibuat dengan media telur antara lain vaksin influenza, MMR, dan vaksin demam kuning. Untuk alergi telur ringan, biasanya vaksin tetap dapat diberikan dengan pengawasan ketat di fasilitas kesehatan.

  • Gangguan Perdarahan

Kondisi seperti hemofilia atau trombositopenia dapat menjadi kontraindikasi vaksinasi karena ada risiko perdarahan setelah suntikan. Penderita gangguan pembekuan darah atau trombosit rendah perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum mendapatkan vaksinasi.

  • Kekebalan Tubuh Lemah

Orang dengan sistem kekebalan yang lemah, seperti pada kondisi HIV/AIDS, leukemia, limfoma, atau pengobatan immunosupresif dapat berisiko mengalami efek samping yang lebih serius dari vaksin. Oleh karena itu, vaksinasi harus dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan jenis vaksinnya.

Secara umum, kontraindikasi vaksin perlu dikonsultasikan dengan dokter agar dapat ditentukan apakah vaksinasi tetap bisa dilakukan dengan penyesuaian dosis atau jenis vaksin. Dengan demikian, manfaat vaksinasi tetap dapat diperoleh dengan meminimalkan risiko efek samping.

Cara Penyimpanan Vaksin

Vaksin harus disimpan pada suhu yang tepat agar tetap efektif dan aman digunakan. Suhu yang ideal untuk penyimpanan vaksin adalah 2-8 derajat Celcius. Menjaga vaksin pada suhu ini dapat mempertahankan keutuhan dan keefektifan vaksin.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan vaksin:

  • Simpan vaksin di dalam lemari pendingin atau refrigerator khusus untuk vaksin dengan suhu 2-8 derajat Celcius. Pastikan suhu lemari pendingin selalu termonitor.
  • Hindari menempatkan vaksin dekat dengan dinding freezer atau bagian belakang lemari pendingin karena suhu di area tersebut bisa kurang dari 2 derajat Celcius.
  • Jangan menyimpan vaksin di pintu lemari pendingin karena setiap kali pintu dibuka, suhu pendingin akan berubah.
  • Hindari pembekuan vaksin karena dapat merusak vaksin.
  • Lindungi vaksin dari paparan sinar matahari langsung. Sinar UV dapat merusak keefektifan vaksin.
  • Baca petunjuk pada kemasan vaksin untuk informasi penyimpanan yang tepat.

Dengan menjaga suhu dingin 2-8 derajat Celcius dan menghindari paparan sinar matahari, vaksin dapat disimpan dengan aman tanpa kehilangan keefektifannya. Pastikan untuk memonitor suhu lemari pendingin secara rutin.

Biaya Vaksin

Secara umum ada 2 jenis biaya vaksin di Indonesia yaitu vaksin gratis dan vaksin berbayar.

  • Vaksin Gratis

Vaksin gratis biasanya diperuntukkan bagi program imunisasi dasar seperti vaksin BCG, Polio, DPT, Campak, dan Hepatitis B. Vaksin ini diberikan secara cuma-cuma di fasilitas kesehatan milik pemerintah seperti puskesmas, klinik, dan posyandu. Biaya vaksin ini ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah.

  • Vaksin Berbayar

Selain vaksin wajib, ada beberapa jenis vaksin lain yang berbayar dan harus dibeli sendiri di apotek atau klinik swasta. Misalnya vaksin flu, thypoid, hepatitis A, dan vaksin COVID-19 (Vaksin Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, Moderna, dll). Harga vaksin berkisar antara Rp 200.000 – Rp 1 juta per dosis tergantung jenis dan merek vaksin.

  • Vaksin BPJS

Bagi peserta BPJS Kesehatan, sejumlah vaksin tertentu bisa diakses dengan menggunakan kartu BPJS tanpa dikenai biaya. Misalnya vaksin flu, thypoid, hepatitis A, dan vaksin COVID-19 Sinovac. Namun tetap ada syarat dan ketentuan berlaku.

  • Vaksin Swasta

Selain BPJS, beberapa perusahaan atau kantor juga menyediakan program vaksinasi tahunan khusus untuk karyawannya. Biasanya program ini berbayar dengan potongan gaji atau tunjangan perusahaan. Hal ini bertujuan untuk menjaga kesehatan dan produktivitas karyawan.

Jadi dapat disimpulkan, ada berbagai opsi biaya vaksin di Indonesia, mulai dari yang sama sekali gratis hingga berbayar. Penting bagi kita untuk memahami hak dan kewajiban kita sebagai warga negara dalam mendapatkan akses vaksin yang aman dan berkualitas.

Mitos dan fakta vaksin

Terdapat beberapa mitos dan salah kaprah tentang vaksin yang perlu diluruskan dengan fakta-fakta terkini:

  • Vaksin menyebabkan autisme

Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa vaksin menyebabkan autisme. Klaim ini bermula dari sebuah penelitian tahun 1998 oleh Andrew Wakefield yang mengaitkan vaksin MMR dengan autisme. Namun, penelitian tersebut terbukti mengandung kecurangan dan telah ditarik kembali. Studi-studi selanjutnya dengan metodologi yang baik secara konsisten tidak menemukan hubungan antara vaksin dan autisme.

  • Vaksin berbahaya dan beracun

Kandungan vaksin sudah melalui uji keamanan yang ketat. Zat aktif dalam vaksin hanya berupa virus/bakteri yang sudah dimatikan atau dilemahkan agar tidak menimbulkan penyakit. Vaksin juga tidak mengandung bahan berbahaya seperti raksa atau aluminium. Efek samping vaksin umumnya ringan seperti nyeri, bengkak, atau demam. Manfaat vaksin jauh lebih besar dibanding risiko efek sampingnya.

Tentang Penulis: Jonathan putra

Gambar Gravatar
dr. Jonathan Putra merupakan Dokter Umum yang berpraktik di RS Umum Royal Prima. Beliau telah mengemban pendidikan Kedokteran Umum di Universitas Sumatera Utara. Adapun layanan yang dapat dr. Jonathan putra bantu yaitu konsultasi kesehatan umum, seperti demam, sakit kepala/ migrain, diare, batuk/ pilek, sariawan, ambeiien, asma, rematik, kolesterol. Selain itu, Beliau terhimpun dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.